Judul : Maksimalisasi Laba
Oleh : 1. Maria Ulfa
2. Mutimatul Hasanah
Laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan 2 cara, yaitu :
1.
Laba
dalam Ilmu Ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang
investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang
berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk di dalamnya biaya
kesempatan)
2.
Laba
dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan
biaya produksi
Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian
pemakai karena angka lebih diharapkan cukup kaya untuk merepresentasi kinerja
perusahaan secara keseluruhan. Akan tetapi, teri akuntasi sampai saat ini belum
mencapai kemantapan dalam pemaknaan dan pengukuran laba. Oleh karena itu,
berbeda dengan elemen statemen keuangan lainnya, pembahasan laba meliputi tiga
tataran, yaitu :
1.
Semantik
2.
Sintaktik
3.
Pragmatik
Dari sudut pandang perekayasa akuntansi, konsep laba
dikembangkan untuk memenuhi tujuan menyediakan informasi tentang kinerja
perusahaan secara luas. sementara itu, pemakai informasi mempunyai tujuan yang
berbeda-beda. Teori akuntansi laba menghadapi dua pendekatan, pertama laba
untuk berbagai tujuan atau beda tujuan beda laba. Teori akuntansi diarahkan
untuk memformulasi laba dengan pendekatan pertama. Konsep dalam tataran
semantik meliputi pemaknaan laba sebagai pengukur kinerja, pengkonfirmasi
harapan investor, dan estimator laba ekonomik. Meskipun akuntansi tidak harus
dapat mengukur dan menyajikan laba ekonomik, akuntansi paling tidak harus
menyediakan informasi laba yang dapat digunakan pemakai untuk mengukur laba
ekonomik yang gilirannya untuk menentukan nilai ekonomik perusahaan.
Makana laba secara umum adalah kenaikan kemakmuran dalam suatu periode yang dapat dinikmati
(didistribusi atau ditarik) asalkan kemakmuran awal masih tetap dipertahankan.
Pengertian semacam ini didasarkan pada
konsep pemertahanan kapital. Konsep ini membedakan antara laba dan kapital.
Kapital bermakna sebagai persediaan (stock) potensi jasa atau kemakmuran
sedangkan laba bermakna aliran (flow) kemakmuran. Dengan konsep pemertahanan
kapital dapat dibedakan antara kembalian
atau investasi dan pengembalian investasi serta antara transaksi operasi dan
transaksi pemilik. Lebih lanjut, laba dapat dipandang sebagai perubahan aset
bersih sehingga berbagai dasar penilaian kapital dapat diterapkan.
Laba adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal
dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan
usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempunyai badan usaha
selama satu periode, kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau
investasi pemilik (Baridwan, 1992:55).
Penegertian laba secara umum adalah selisih dari
pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu (periode) tertentu. Laba
sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden,
pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsurprediksi (Harnanto,
2003:444).
Dalam teori ekonomi juga dikenal adanya istilah laba, akan
tetapi pengertian laba di dalam teori eonomi berbeda dengan pengertian laba
menurut akuntansi. Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai
suatu kenaikan dalam kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba
adalah perbedaan pendapatan yang direalisasi dari transaksi yang terjadi pada
waktu dibandingkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu
(Harahap, 1997).
Laba atau rugi sering dimanfaatkan ukuran untuk menilai
prestasi perusahaan atau sebagai dasar ukuran penilaian yang lain, seperti laba
per lembar saham. Unsur-unsur yang menjadi bagian pembentuk laba adalah
pendapatan dan biaya. Dengan mengelompokkan unsur-unsur pendapatan dan biaya,
akan dapat diperoleh hasil pengukuran laba yang berbeda antara lain:
a.
Laba
kotor
b.
Laba
operasional
c.
Laba
sebelum pajak
d.
Laba
bersih
Pengukuran laba bukan saja penting untuk menentukan
prestasi perusahaan tetapi penting juga sebagai informasi bagi pembagian laba
dan penentuan kebijakan investasi. Oleh karena itu, laba menjadi informasi yang
dilihat oleh banyak seperti banyak profesi akuntansi, pengusaha, analis
keuangan, pemegang saham, ekonom, fiskus, dsb (Harahap, 2001:259). Hal ini
menyebabkan adanya berbagai definisi untuk laba.