Jumat, 29 Maret 2013

managemen strategi



Strategi Bisnis Perusahaan Yamaha
Oleh : Mutimatul Hasanah
Universitas Yudharta Pasuruan

1.      Riwayat Berdirinya Perusahaan Yamaha
YAMAHA, nama tersebut diambil dari nama pendiri pertamanya “Torakusu Yamaha”. Karena kesukaannya pada musik, Torakusu Yamaha mendirikan
perusahaan Yamaha Corp pada tahun 1887 dan dikenal sebagai pembuat Orgen pertama di jepang dengan logo garpu tala. Menjelang Perang dunia ke 2, semua home industri dimanfaatkan untuk memproduksi alat perang. Demikian juga dengan Torakusu Yamaha, beliau diminta untuk memproduksi “Propeler” atau yang biasa disebut baling
-baling  pesawat tempur jepang. Pada saat itu pabrik Torakusu Yamaha hancur berantakan menjadi sasaran bom tentara AS dan sekutunya, pada tahun 1955, Torakusu Yamaha kembali membangun pabrik pembuat alat musik dibawah bendera NIPPON GAKKI di daerah Hamamatsu, yang merupakan pusat sepeda motor di Jepang, termasuk juga motor Suzuki dan Honda yang berasal dari kota jepang.
Pada 1 Juni 1955, berdirilah Yamaha Motor Corp, Perusahaan ini terpisah dari dari Yamaha Corp, namun tetap dalam satu grup Yamaha. Produksi pertama Yamaha Motor Corp adalah single cylinder 2 stroke 125cc, dimana hasil copy dari DKW 125cc yang berasal dari pabrikan Jerman (Bantam). Sepeda motor ini diberi nama YA1 alias Atakombo dalam bahasa kanji yang berarti Red Dragon Fly (Capung merah). Nama ini diambil dari nama pesawat tempur Jepang. Saat itu motor Yamaha berwarna merah sehingga terlihat beda dengan motor-motor lain yang semuanya berwarna hitam. . Pada tahun 1957 Yamaha Motor Corp memproduksi motor twin cylinder YDI yang sanggup mengeluarkan power 20 bHP.. dan memenangkan race Mount Asama di Jepang. Produksi motor ini sekitar 15.811 bikez namun jumlah ini masih dibawah produksi Honda dan Suzuki. Yamaha Motor Corp berkembang cukup pesat, pada tahun 1959 Yamaha Motor Corp mengeluarkan motor sportz pertamanya YDSI dengan 5 speed gearbox. Yamaha berhasil mengembangkan sistem autolube, dimana oli samping ditampung dalam oil tank dan akan mencampur secara otomatis sebagaimana halnya motor 2 tak saat ini. Produksi Yamaha Motor Corp meningkat 6 kali lipat menjadi 138 ribu motor pada tahun 1960.Selain itu Yamaha berhasil menancapkan bendera sebagai pembuat motor 2 tak terbaik terutama Model YDS 250cc tahun 1960 dan YR1 350cc. Tahun 1962 ekspor yamaha ke AS sebanyak 12 ribu motorcyclez. Pada tahun 1963 Yamaha Motor Corp eksport motor ke AS kurang lebih 36 ribu unit. Pada Tahun 1963 Yamaha membuat motor 250cc, twin cylinder dan air cooled. Sejak saat itu Yamaha lumayan dikenal di Negara Jepang. Puncaknya pada tahun 1964, ekspor Yamaha Motor Corp ke Amerika Serikat mencapai 87 ribu unit. Pada tahun 1965, produksi Yamaha sudah mencapai 244 rebu unit dan peruntukkannya 50:50, dimana sebagian untuk eksport sedangkan sebagian lainnya konsumsi dalam negeri.
Pada Tahun 1970, jumlah type product yang ditawarkan Yamaha mencapai 20 jenis, mulai dari 50cc sampai dengan 350cc. Selain itu Yamaha juga menyadari potensi 2 stroke masih terbuka lebar sehingga Yamaha memproduksi sekitar 574 ribu engines dan 60% diantaranya untuk di ekspor. Dan ditahun yang sama juga, Yamaha mulai bermain di 4 stroke dengan mengeluarkan motor XS1 650cc vertical twin dimana megadopsi dari Triumph Twin. Motor ini sanggup mengeluarkan power sebesar 50HP pada 7200RPM dan torsi maksimum sebesar 52Nm pada 6000RPM. Tidak hanya itu pada tahun yang sama Yamaha membuat YR 5, ini motor pertama yang terkenal ringan dan relatif terjangkau harganyan dibanding motor2 dikelasnya saat itu. Kesuksesan demi kesuksesan Yamaha terus berlanjut, Sampai tahun 1996 lahirlah YZF-R6 dan YZF-R1 (1000cc). Motor ini terkenal dengan designnya yang cantik, handling sip, dan power yang luar biasa. ”Kalo mau style pilihlah kedua model ini” Inilah perumpamaan yang ada saat itu. Pada tahun 2001 diluncurkan YZS 1000, ini adalah versi Road bike dengan model yang sama menggunakan enginernya R1. Dan sampai saat ini, Yamaha selalu mengeluarkan motor-motor terbaiknya.
2.      Strategi bisnis Perusahaan Yamaha
Dalam beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan sebuah pertarungan yang sangat keras dan menarik antara produk Yamaha dan Honda. Setelah bertahun-tahun menguasai pangsa pasar dengan meyakinkan, kejayaan Honda tampaknya mulai terenggut dan siap-siap menyerah diserbu oleh produk Yamaha. Di balik hiruk pikuknya, persaingan Honda dan Yamaha dalam rangka merebut pangsa pasar di bidang motor, ternyata banyak strategi pemasaran (strategi bisnis) yang dilakukan perusahaan Yamaha, adalah :
·        Strategi 1 : Berani mengambil risiko, untuk kesempatan pertama.Strategi ini digunakan Yamaha, untuk menyalip dominasi Honda di tikungan keragu-raguan Honda untuk me- release produk Motor tipe skutik. Saat itu Honda masih ragu-ragu terhadap penerimaan pangsa pasar akan produk skutik dan memilih bermain aman dengan status-quo nya. Sedangkan Yamaha melihatnya sebagai suatu kesempatan (dengan segala risikonya) yang harus diambil. Seakan-akan Yamaha nothing to loose dalam menjalankan strateginya tersebut. Alhasil, Yamaha berani mengambil risiko, mengadu peruntungan dengan ‘mengambil peluang’ untuk meluncurkan skuter matic pertama di Indonesia: Yamaha Mio, pada tahun 2004! Langkah ini rupanya berjalan sukses dan berhasil menjadikan Yamaha sebagai pioneer produk skutik, sekaligus merebut pangsa pasar Honda ketika itu. Yamaha tengah menikmati hasil  peruntungannya,serta dengan percaya diri memasang slogan “Yang lain Makin ketinggalan”.
·        Strategi 2 : Menciptakan proyek inovasi (Inovation Project ).Yamaha menciptakan berbagai inovasi pada produknya khususnya sepeda motor injeksi. Dalam hal ini inovasi (kebaruan) produk sepeda motor injeksi dapat dititikberatkan pada style produk.Caranya adalah melahirkan produk yang lebih stylist dengan beberapa modifikasi dari produk yang sudah ada seperti V-ixion FI. Varian V-ixion FI sangat potensial untuk dijadikan proyek inovasi. Selain bisa berinovasi dengan produk lama (memperbaiki mutu produk), Yamaha juga dapat melakukan inovasi pada produk baru. Dalam hal ini, Yamaha dituntut untuk berani tampil beda.
·        Strategi 3 : Menciptakan harga dan kualitas produk yang bersaing (Kompetitif).Tolak ukur larisnya sebuah produk termasuk sepeda motor sangat ditentukan oleh kualitas dan harga. Semakin rendah harga produk namun kualitasnya tinggi maka itulah yang akan menjadi incaran masyarakat. Oleh sebab itu Yamaha harus mampu menekan harga jual produk sekaligus spare part nya agar lebih rendah dari pesaing lainnya. Atau dapat juga memberikan produk dengan kualitas lebih tinggi dari pesaing lainnya dengan harga yang masih bersaing.
·        Strategi 4 : Meningkatkan kualitas pelayanan konsumen (Exellent Service ).Filosofi yang patut diusung oleh Yamaha adalah pelayanan prima (exellent service ) bagi konsumen. Palayanan prima yang dimaksud adalah pelayanan ( service ) Yamaha yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Pelanggan yang puas adalah seseorang yang merasa mendapat value dari produsen.
·         Strategi 5 : Rencana penggabungan dua anak perusahaan yang menginduk pada PT. Yamaha.Yamaha Indonesia merencanakan penggabungan dua anak perusahaan yang menginduk kepada Yamaha Motor Company di Jepang. PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) dan PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) menjadi satu di bawah satu nama yaitu PT YIMM. Tujuan penggabungan ini telah dikonsepkan dengan matang dan siap direalisasikan.
Dan pada akhirnya perjalanan Yamaha selalu didasarkan pula pada konsumen yang telah setia dan mencintai produk Yamaha. Sebab itulah kunci keberhasilan Yamaha ditinjau dari segi pelayanan yang juga mendapatkan penghargaan berdasarkan hasil riset ISSI (Indonesian Service Satisfaction Index) di 2011. Dasarnya adalah konsistensi kualitas pelayanan melalui CCS (Customer and Community Satisfaction) dan kerjasama antar semua fungsi sales, service dan spare part dengan dealer-dealer resmi Yamaha.

Selasa, 27 November 2012

Maksimalisasi Laba


     Judul : Maksimalisasi Laba
     Oleh : 1. Maria Ulfa
               2. Mutimatul Hasanah


       Laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan 2 cara, yaitu :
1.      Laba dalam Ilmu Ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk di dalamnya biaya kesempatan)
2.      Laba dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi

            Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian pemakai karena angka lebih diharapkan cukup kaya untuk merepresentasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Akan tetapi, teri akuntasi sampai saat ini belum mencapai kemantapan dalam pemaknaan dan pengukuran laba. Oleh karena itu, berbeda dengan elemen statemen keuangan lainnya, pembahasan laba meliputi tiga tataran, yaitu :
1.      Semantik
2.      Sintaktik
3.      Pragmatik

            Dari sudut pandang perekayasa akuntansi, konsep laba dikembangkan untuk memenuhi tujuan menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan secara luas. sementara itu, pemakai informasi mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Teori akuntansi laba menghadapi dua pendekatan, pertama laba untuk berbagai tujuan atau beda tujuan beda laba. Teori akuntansi diarahkan untuk memformulasi laba dengan pendekatan pertama. Konsep dalam tataran semantik meliputi pemaknaan laba sebagai pengukur kinerja, pengkonfirmasi harapan investor, dan estimator laba ekonomik. Meskipun akuntansi tidak harus dapat mengukur dan menyajikan laba ekonomik, akuntansi paling tidak harus menyediakan informasi laba yang dapat digunakan pemakai untuk mengukur laba ekonomik yang gilirannya untuk menentukan nilai ekonomik perusahaan.
            Makana laba secara umum adalah kenaikan kemakmuran  dalam suatu periode yang dapat dinikmati (didistribusi atau ditarik) asalkan kemakmuran awal masih tetap dipertahankan. Pengertian semacam ini  didasarkan pada konsep pemertahanan kapital. Konsep ini membedakan antara laba dan kapital. Kapital bermakna sebagai persediaan (stock) potensi jasa atau kemakmuran sedangkan laba bermakna aliran (flow) kemakmuran. Dengan konsep pemertahanan kapital dapat  dibedakan antara kembalian atau investasi dan pengembalian investasi serta antara transaksi operasi dan transaksi pemilik. Lebih lanjut, laba dapat dipandang sebagai perubahan aset bersih sehingga berbagai dasar penilaian kapital dapat diterapkan.
            Laba adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempunyai badan usaha selama satu periode, kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi pemilik (Baridwan, 1992:55).
            Penegertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu (periode) tertentu. Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsurprediksi (Harnanto, 2003:444).
            Dalam teori ekonomi juga dikenal adanya istilah laba, akan tetapi pengertian laba di dalam teori eonomi berbeda dengan pengertian laba menurut akuntansi. Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai suatu kenaikan dalam kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba adalah perbedaan pendapatan yang direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu dibandingkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu (Harahap, 1997).
            Laba atau rugi sering dimanfaatkan ukuran untuk menilai prestasi perusahaan atau sebagai dasar ukuran penilaian yang lain, seperti laba per lembar saham. Unsur-unsur yang menjadi bagian pembentuk laba adalah pendapatan dan biaya. Dengan mengelompokkan unsur-unsur pendapatan dan biaya, akan dapat diperoleh hasil pengukuran laba yang berbeda antara lain:
a.       Laba kotor
b.      Laba operasional
c.       Laba sebelum pajak
d.      Laba bersih

            Pengukuran laba bukan saja penting untuk menentukan prestasi perusahaan tetapi penting juga sebagai informasi bagi pembagian laba dan penentuan kebijakan investasi. Oleh karena itu, laba menjadi informasi yang dilihat oleh banyak seperti banyak profesi akuntansi, pengusaha, analis keuangan, pemegang saham, ekonom, fiskus, dsb (Harahap, 2001:259). Hal ini menyebabkan adanya berbagai definisi untuk laba. 

http://www.slideshare.net/MuhammadAnshar/konsep-laba